Perkataan Baik Lawan Perkataan Buruk

Perkataan atau kalimat yang baik ibarat pohon tinggi yang kokoh. Sedangkan perkataan atau kalimat yang buruk ibarat pohon runtuh. Itulah gambaran yang diberikan Allah SWT dalam firman-Nya, Q.S.Ibrahim ayat 24.

“Tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Allah. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang tercerabut akar-akarnya dari bumi, tidak dapat tegak sedikit pun. Allah meneguhkan iman orang-orang beriman dengan ucapan yang tegas itu dalam kehidupan dunia dan akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa saja yang Dia kehendaki.”

Para mufasir menguraikan makna kalimat toyibah itu berdasarkan ayat-ayat Quran lainnya yang menunjukkan jenis-jenis perkataan atau kalimat yang mengandung kebaikan. Antara lain qowlun ma’rufun. Ucapan yang baik nilainya lebih utama daripada sedekah (Q.S. Al Baqarah: 263).

Juga qawlun syadid. Perkataan yang benar, yang akan memperbaiki amal-amalan, menuai ampunan, dan keunggulan yang jelas (Q.S. Al Ahzab: 70-71).

Atau qawlun balighun. Perkataan yang cermat, jelas, efektif, membekas pada jiwa pendengarnya. (Q.S. An Nisa: 63).

Selanjutnya qawlun karimun. Perkataan yang mulia, terutama terhadap ibu-bapak (Q.S. Al Isra: 23). Qawlun maysur, ucapan yang pantas. Tatkala pamit untuk meninggalkan perkara dosa dan mungkar. Sehingga menggugah kesadaran mereka (Q.S. 17:28). Qawlun layyinun, perkataan lemah lembut. Terutama dalam menghadapi kezaliman, baik di kalangan penguasa maupun masyarakat. Yang membuat pendengarnya ingat atau takut atas keingkaran mereka (Q.S.Thaha: 44).

Menurut para hukama (ahli hikmah), jenis-jenis perkataan di atas, yang jelas-jelas baik dan terpuji di sisi Allah SWT sering mengundang reaksi negatif. Terutama dari tiga jenis kelompok yang lebih menyukai kekerasan, emosi, huru-hara, pengkhianatan, dsb. Yaitu kalangan penguasa yang alergi kritik. Terbiasa bergelimang kejahatan, korupsi, konspirasi, dan perbuatan tercela lainnya. Seorang pemimpin jika diberi kebaikan tidak bersyukur, jika engkau berbuat kesalahan tidak memaafkan (imamun in ahsanta lam yasykur, wa in asa’ya lam yaghfir).

Para tetangga yang suka bergunjing, mencari-cari bahan gosip. Jika melihat tetangga lain mendapat kebaikan, mereka menutup-nutupi. Tapi jika melihat berbuat jelek, segera menyebarkannya (wa jarun in ro’yu khoiron dafanah, wa in ro’a syarun asya’ah).

Termasuk para istri yang tidak hormat dan tidak setia pada suami. Ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang. Melakukan apa saja yang memusingkan suami. Tatkala suami pergi mencari nafkah memenuhi kewajiban rumah tangga, istri semacam itu tega berkhianat. Selingkuh dengan laki-laki lain dan semacamnya (wa amarotun in hadarta adatka, wa in ghibta anka khonatka).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s