Melihat Sejarah lewat Wisata Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi

Apa yang terlintas jika Anda mendengar nama tersebut? Kuliner, atau objek wisatakah? Ya, sesuai pandangan kebanyakan orang, Cirebon yang dijuluki sebagai kota wali lantaran kental akan sejarah kebudayaan ini memiliki banyak tempat wisata. Mulai dari tempat wisata bersejarah, hingga tempat wisata yang mengalami urbanisasi.

Sebut saja salah satunya adalah obyek wisata Sunyaragi. Letaknya hanya beberapa kilometer dari terminal pusat kota Cirebon yakni terminal Harjamukti, kita akan menemukan sebuah cagar budaya yang merupakan peninggalan masyarakat lama daerah setempat. Sunyaragi adalah sebuah gua yang berlokasi di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon dimana terdapat bangunan mirip candi yang disebut Gua Sunyaragi, atau Taman Air Sunyaragi, atau sering juga dikenal sebagai Tamansari Sunyaragi.

Sesuai namanya, Sunyaragi yang berasal dari bahasa sanksekerta yaitu “Sunya” yang berarti sepi dan “ragi” yang berarti raga. Kedua istilah tersebut dipadankan menjadi Sunyaragi yang berarti “sepi raga”. Tujuan utama didirikannya Gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Konstruksi dan komposisi bangunannya merupakan sebuah taman air. Pada zaman dahulu komplek gua tersebut dikelilingi oleh sebuah danau yaitu danau jati.

Gua Sunyaragi ini merupakan salah satu cagar budaya yang berada di Kota Cirebon dengan luas sekitar 15 hektar. Objek cagar budaya ini berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, Cirebon.  Di gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias, dan hiasan taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, dan Patung Garuda. Konon menurut legenda, yang paling unik di sana adalah mitos mengenai patung Perawan Sunti. Menurut masyarakat sekitar, apabila seorang perempuan yang masih perawan memegang patung tersebut dia akan menjadi perawan tua.

Karena terkenal dengan sejarahnya, Tamansari Sunyaragi mulai dilengkapi berbagai fasilitas. Mulai dari kios cinderamata, pusat informasi wisata, wc umum hingga tempat parkir pun tersedia di sana. Bagi yang berminat mengisi waktu luangnya, bisa berkunjung ke kawasan ini. Selain dapat mempelajari sejarah, kita pun dapat menikmati panorama alam yang tersaji. Hanya dengan mengocek dompet sebesar lima ribu rupiah, kita bisa berkeliling mengitari gua bersejarah itu. Kita juga bisa masuk ke dalam gua terdalam yang memiliki ruang sangat gelap dan sempit. Maka dari itu, untuk memasukinya, kita membutuhkan alat penerang berupa lilin atau senter.

Di depan candi-candi yang membentuk gua tersebut, kita juga akan mendapati sebuah lapangan terbuka yang beralaskan semen dengan sederet dipan yang terbuat dari batu. Di sanalah biasanya diadakan pertunjukan seni atau pementasan teater terbuka sebagai wahana rekreasi baru di tempat bersejarah itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s