Logam Transisi: PERBEDAAN SIFAT LOGAM TRANSISI DENGAN LOGAM UTAMA

Logam transisi memiliki konfigurasi electron yang berbeda dengan logam utama, (non transisi). Hal ini menyebabkan kecendrungan perbedaan sifat periodic dengan logam utama. Pada logam transisi, sifat unsur ditentukan oleh electron di subkulit terluar ns dan sub kulit sebelumnya (n-1)d. sedangkan pada logam utama, hanya ditentukan oleh subkulit ns. Berikut perbedaan antara logam transisi dan logam utama ditinjau dari beberapa sifat fisik yang membedakan keduanya.

1. Kerapatan, titik leleh, dan titik didih

A. Logam transisi
Memiliki kerapatan, titik leleh, titik didih yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan ikatan logamnya yang lebih kuat karena memiliki lebih banyak electron-elektron dari subkulit ns dan (n-1)d yang terlibat dalam ikatan logamnya.

B. Logam utama
Memiliki kerapatan, titik leleh, titik didih yang relative lebih rendah. Hal ini dikarenakan ikatan logamnya hanya melibatkan electron-elektron di subkulit ns sehingga sedikit sekali electron yang terlibat dalam membentuk ikatan logam.
2. Tingkat oksidasi/biloks

A. Logam transisi
Memiliki berbagai bilangan oksidasi, karena dapat melepas electron baik di subkulit ns maupun di subkulit (n-1)d

B. Logam utama
Memiliki bilangan oksidasi yang terbatas, karena hanya dapat melepas electron di subkulit ns saja.
3. Kereaktifan

A. Logam transisi
Bersifat kurang reaktif. Hal ini terkait dengan jumlah electron di subkulit ns dan (n-1)d nya yang lebih banyak dibanding logam utama. Akibatnya lebih besar energy yang dibutuhkan untuk melepas electron-elektron blok d dibanding blog s pada periode yang sama. Hal ini tampak dari perbandingan nilai energy ionisasi kedua logam.

B. Logam utama
Bersifat sangat reaktif karena jumlah elektronnya lebih sedikit, sehingga nilai energy ionisasinya lebih rendah.

4. Warna

A. Logam transisi
Cenderung membentuk senyawa atau ion kompleks yang berwarna. Hal ini terkait dengan eksitasi electron yang terjadi di subkulit d melibatkan energy yang setara dengan energy cahaya tampak, yakni antara 170 – 290 kJ/mol atau setara dengan panjang gelombang = 700 – 400 nm.

B. Logam utama
Cenderung membentuk senyawa tidak berwarna. Hal ini dikarenakan eksitasi electron yang terjadi melibatkan subkulit s dan p di mana perbedaan tingkat energinya lebih besar dari energy cahaya tampak dan setara dengan energy sinar UV.

5. Ion kompleks

A. Logam transisi
Cenderung membentuk berbagai ion kompleks, karena muatan positif intinya yang lebih besar sehingga cenderung menarik spesi-spesi yang kaya akan electron.

B. Logam utama
Hanya membentuk beberapa ion kompleks, karena muatan intinya lebih kecil.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s